Perjalanan Spiritual Seorang dengan Banyak Keterbatasan
Aku.. Adalah manusia biasa yang punya banyak keterbatasan. Aku mengakui itu, tapi salahkah jika aku hanya menginginkan satu orang saja yang bisa menerima semua keterbatasanku? Dan inilah cerita perjalanan spiritualku:
Aku mulai dari cerita bahwa aku yang dulu adalah seorang yang memiliki hubungan spesial dengan Tuhan. Ia seperti seorang sahabat yang selalu mendengar semua keluh kesah ku, memberi solusi dan banyak hal lain. Dulu, aku percaya penuh kepada Tuhan sebagai sebuah entitas yang aktif, yang mau mendengar, melihat, memberi, membimbing dan memberi solusi terbaik, selama semua itu aku mohonkan dengan tulus dari dalam hatiku. Aku sama sekali tidak meragukan semua itu. Aku percaya Tuhan itu bisa membuat sebuah mukjizat dan mampu melakukan hal yang mustahil dilakukan oleh manusia.
Kemudian, awal sebuah masalah mulai datang menghampiriku satu per satu. Aku sedikit lupa mana dulu yang pertama menghampiri, tapi sepertinya dimulai dari jatuh sakitnya ibuku. Sejak ibuku jatuh sakit, kehidupan mulai berubah. Soal ibuku belum selesai, singkat cerita ada masalah lain soal percintaan. Dia itu bisa aku bilang sebagai cinta pertamaku. Dia adalah wanita yang berbeda keyakinan denganku. Dari sinilah hubunganku dengan Tuhan mulai retak. Mungkin aku yang terlalu egois, karena menginginkan dia untuk menjadi milikku. Hingga aku membantah pada Tuhan dan bertanya: untuk apa agama diciptakan jika pada akhirnya hanya menjadi sebuah tembok yang membatasi hubungan seseorang? menjadi sebuah alasan seseorang menjauh dan saling tidak peduli?
Dari masalah cinta yang terbentur perbedaan agama tadi, aku mulai melakukan perjalanan spiritualku dengan mencoba untuk mempelajari semua agama yang ada di Indonesia. Mungkin ini alasan Tuhan membenturkan cinta pertamaku dengan tembok perbedaan agama. Dan kini, hubunganku dengan Tuhan mulai kembali membaik. Aku banyak belajar dari berbagai agama. Hal-hal yang sama dari banyak agama yang ada di kitab suci aku jadikan pedoman hidup. Menerima apa yang baik dari begitu banyak kepercayaan dan tidak mempermasalahkan perbedaan yang ada dimasing-masing kepercayaan. Dari hal ini toleransiku terhadap sebuah agama tercipta. Bahwa kepercayaan atau keyakinan terhadap agama itu masalah pribadi dengan Tuhan. Manusia tidak punya hak apapun untuk ikut campur, apa lagi untuk diperdebatkan.
Tapi, dalam akhir perjalananku mempelajari agama aku dihadapkan dengan meninggalnya ibuku. Dan ya, itu menjadikan hubunganku dengan Tuhan kembali retak dan membuatku mulai meragukan Tuhan sebagai entitas yang aktif. Padahal saat itu aku masih percaya penuh bahwa Tuhan mampu menyembuhkan sakit ibuku tanpa keraguan sedikitpun. Banyak support dari orang agar aku tidak menyerah untuk percaya kepada Tuhan,. Ya, aku melakukan itu tanpa keraguan. Tapi pada akhirnya Tuhan tidak mengizinkan itu terjadi dan ibuku meninggal. Itu menjadi awal bencana besar dalam kehidupanku. Semenjak ibu pergi semua menjadi lebih tidak baik-baik saja. Sungguh aku bingung dan masih sering bertanya-tanya mengapa Tuhan memanggil begitu cepat ibuku. Tapi apapun itu, aku masih percaya ada sisi baiknya, ada hikmah dibalik meninggalnya ibuku.
Dalam perjalananku mencari tahu apa hikmah dibalik meninggalnya ibuku, justru masalah yang makin berdatangan yang aku temui. Dan itu membuatku semakin meragukan Tuhan sebagai entitas yang aktif. Karena aku hampir selalu bertanya setiap waktu apa alasan Tuhan memanggil ibuku begitu cepat? Tapi nyatanya tak ada satupun jawaban yang bisa membuatku puas. Dan aku justru lebih melihat ada begitu banyak masalah yang muncul setelah meninggalnya ibuku terutama di keluarga. Masalah di keluarga yang menurutku jadi makin tidak karuan setelah meninggalnya ibuku. Sama sekali aku tidak melihat keharmonisan dalam sebuah keluarga. Bahkan aku tidak lagi melihat keluarga sebagai tempat untuk pulang. Sampai saat ini aku masih bertanya apa alasan Tuhan memanggil ibuku begitu cepat? Padahal menurutku akan jauh lebih baik ketika ibuku bisa sembuh dari sakitnya.
Setelah mengalami kekecewaan yang begitu besar dan diakhir hubungan spesialku dengan Tuhan. Untuk terakhir kalinya aku diberi sebuah gambaran besar tentang 2 hal dimasa depan. Yang pertama aku akan jatuh sakit tak berdaya di umur 20an tahun. Dan yang kedua, aku akan menjadi orang yang tidak baik. Ini yang menyadarkanku untuk tidak menyerah dan harus terus berjuang. Dan setelah itu, hubungan spesialku dengan Tuhan benar-benar putus (Tuhan sebagai entitas yang aktif). Aku sudah tidak pernah lagi melihat gambaran apapun atau solusi apapun atas semua masalahku dimasa depan.
Bagaimanapun aku tak ingin kedua hal tadi terjadi dimasa depanku. Untuk hal pertama, aku berusaha untuk melatih tubuhku yang lemah ini agar memiliki antibodi yang kuat untuk melawan semua bibit penyakit yang ada di dalam tubuhku. Untuk yang satu ini aku rasa berhasil sejauh ini, karena ada banyak progres tentang kekuatan fisik yang ada di dalam diriku. Untuk hal kedua, aku berusaha untuk menjalin hubunganku dengan Tuhan kembali karena aku tak ingin retaknya hubunganku dengan Tuhan membuatku menjadi orang yang jahat. Namun, ketika hubunganku mulai kembali perlahan, meskipun tak bisa lagi sespesial dulu. Aku bertemu seseorang yang membuatku jatuh cinta kembali. Dan singkatnya, pada akhirnya dia juga membuatku kecewa. Dari sini kemarahanku mulai muncul dan kembali hubunganku dengan Tuhan yang sudah biasa saja menjadi retak dan pecah berkeping-keping untuk sekian kalinya.
Setelah semua itu, hubunganku dengan Tuhan menjadi semakin jauh dan semakin jauh. Aku berusaha menjalin hubungan kembali, namun setiap aku mulai dekat, selalu saja muncul masalah-masalah yang membuat aku kembali tak percaya pada Tuhan.
Aku tidak percaya lagi Tuhan sebagai entitas yang aktif dan lebih mempercayai Tuhan itu sebagai entitas yang pasif. Tapi aku masih percaya dengan apa yang tertulis di dalam kitab-kitab suci berbagai agama (terutama hal yang sama) dan aku jadikan pedoman hidupku sampai detik ini. Menganggap Tuhan sebagai entitas yang pasif dan menanamkan pedoman hidup dari apa yang sama yang ada di semua kitab suci membuatku jadi lebih baik.
Tapi.. Setelah semua perjalanan itu. Ternyata masih ada saja masalah yang muncul. Aku merasa semua pedoman yang sudah aku rangkum, yang hampir ada disemua kitab suci itu ternyata sudah tidak relevan dengan apa yang sedang terjadi di dunia ini.. bERSAMbUNG! 05/02/23
Tidak ada komentar